Menu

Minggu, 16 Juni 2013

Di Balik Keinginan Korut Menggelar Perundingan dengan AS

http://indonesian.irib.ir/image/image_gallery?uuid=cf7b5c1d-ecea-4413-bf97-e19a7655a7b3&groupId=10330&t=1371382769211

Korea Utara di luar dugaan ingin menggelar perundingan tingkat tinggi dengan Amerika Serikat. Menurut ATV News, Korea Utara secara mengejutkan mendesak agar perundingan tingkat tinggi dengan Amerika digelar untuk mengurangi ketegangan di Semenanjung Korea. Permintaan ini disampaikan Pyongyang setelah perundingannya dengan Korea Selatan pekan lalu gagal dilakukan dengan alasan tidak tercapainya kesepakatan dua negara soal tingkat negosiasi. Korut menilai perundingan dengan Amerika sebagai solusi terbaik untuk menyelesaikan isu nuklir.

Komisi Pertahanan Nasional Korea Utara dalam pernyataannya mengatakan bahwa pemerintahan Presiden AS Barack Obama harus menentukan hari dan tempat pelaksanaan perundingan dan dapat mengusulkan tingkat perundingan tersebut. Menurut laporan kantor berita resmi Korea Utara, Pyongyang tidak menentukan syarat apapun dalam perundingan dengan Washington.

Seorang pejabat tinggi Korut terkait hal ini mengatakan, "Dengan maksud untuk mengurangi ketegangan di Semenanjung Korea dan dicapainya perdamaian serta stabilitas di kawasan, kami menyampaikan usulan perundingan tingkat tinggi antara Pyongyang dan Washington." Ia menambahkan, jika Amerika ingin memelihara keamanan dan stabilitas di kawasan, maka mereka tidak boleh menentukan syarat dalam perundingan ini.

Ketegangan di Semenanjung Korea terus meningkat sejak dilakukannya uji coba nuklir Korea Utara pada bulan Mei lalu sehingga menyeret dua Korea untuk menggelar perang terbuka. Selama ini AS, Korea Selatan dan Jepang menuding Korut sebagai penyebab sejumlah transformasi dan ketegangan di Semenanjung Korea. Ancaman dan peringatan menjadi perang psikologis sehari-hari dan kadang-kadang mengarah pada sebuah perang yang sebenarnya.

Biasanya dalam situasi sensitif dan berada dalam kondisi krisis, suatu negara yang memiliki posisi kuat akan menganggap perundingan sebagai hal yang diinginkan dan tentunya untuk mengambil keuntungan atau poin dari pihak lain dan atau melindungi kelemahan yang dimilikinya. Oleh karena itu, negara-negara yang terlibat dalam krisis di Semenanjung Korea tidak bersedia mengajukan perundingan ketika dalam kondisi lemah.

Upaya para pejabat Korea Selatan untuk lebih dekat dengan AS selalu menimbulkan masalah bagi Korut. Hal ini juga berlaku pada Jepang. Bedanya, kerjasama dengan Washington akan menyebabkan Tokyo kehilanganrelevansi dan posisinya, sebab  Jepang sejak beberapa dekade lalu hingga sekarang selalu mengekor kebijakan AS di Asia dengan alasan politik dan keamanan.

Di sisi lain, Korut selalu merasa kuat dan dapat hidup dengan bersandar pada kekuatan dan posisi Cina sebagai pendukung tradisional dan ideologinya sehingga Pyongyang mengambil langkah yang selaras dengan keinginan Beijing yaitu berunding. Artinya, Korut paling tidak telah mengubah situasi di Semenanjung Korea dan menganggap dirinya sebagai negara yang menuntut perundingan.

Mungkin dapat dikatakan bahwa solusi isu nuklir Korut dan penyelesaian ketegangan di Semenanjung Korea adalah kembalinya Pyongyang ke meja perundingan. Namun tampaknya masalah mendasarnya bukan itu, tetapi langkah tersebut hanya untuk menghilangkan kekhawatiran Korut yang selama beberapa dekade ini menjadi sumber permusuhan bagi Amerika.

Para analis menilai keinginan Korut untuk berunding sebagai cara untuk stabilisasi dan pemantapan kekuatannya atau sama dengan upaya untuk mendapatkan poin dari pihak lawan. Kini pertanyaannya adalah apakah kepemilikan senjata nuklir dapat menjadi tolok ukur stabilisasi dan pemantapan kekuatan? (IRIB Indonesia/RA/NA)

0 Komentar di Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda
http://tusoh.blogspot.com/

0 komentar: